Tubuh Sakramental ( Bahan PA Permata ) - Hari Kesehatan Nasional ( Menjauhkan Diri Dari Makanan Cepat Saji, Begadang, Rokok )


Bahan PA Permata 29 September - 5 Oktober 2019
Hari Kesehatan Nasional
( Menjauhkan Diri Dari Makanan Cepat Saji, Begadang, Rokok )

Nas : Imamat 10:8-11; 1 Petrus 2: 9-11
Imamat 10:8-11
Peraturan untuk para imam
8. Tuhan berkata kepada Harun,
9. “Sehabis minum air anggur atau minuman keras, engkau dan anak-anakmu tidak boleh masuk ke dalam Kemah-Ku. Kalau kamu melanggar peraturan itu, kamu akan mati. Perintah itu harus ditaati oleh semua keturunanmu.
10. Kamu harus dapat membedakan antara yang dikhususkan untuk Allah dan yang tidak dikhususkan, antara yang najis dan yang tidak najis.
11. Semua hukum yang Kuberikan kepadamu melalui Musa, harus dapat kamu ajarkan kepada bangsa Israel.”

1 Petrus 2: 9-11 
9. Tetapi kalian adalah bangsa yang terpilih, imam-imam yang melayani raja, bangsa yang kudus, khusus untuk Allah, umat Allah sendiri. Allah memilih kalian dan memanggil kalian keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Nya yang gemilang, dengan maksud supaya kalian menyebarkan berita tentang perbuatan-perbuatan-Nya yang luar biasa.
10. Dahulu kalian bukan umat Allah, tetapi sekarang kalian adalah umat Allah. Dahulu kalian tidak dikasihani oleh Allah, tetapi sekarang kalian menerima belas kasihan-Nya.  
Hamba-hamba Allah
11. Saudara-saudara yang tercinta! Kalian adalah orang asing dan perantau di dunia ini. Sebab itu saya minta dengan sangat supaya kalian jangan menuruti hawa nafsu manusia yang selalu berperang melawan jiwa.
Tema : Tubuh Sakramental
Agar PERMATA GBKP:
  1. Mampu menjelaskan tubuh sakramental
  2. Mampu menginventarisir / mandaftar kebiasaan baik yang mendukung kesehatan
Metode : Diskusi dan Membuat Tag Line (Hidup Sehat)

I. PENDAHULUAN 
Seberapa dalam kita mencintai tubuh kita? Pertanyaan ini penting sebab di tengah-tengah gaya hidup yang instagramable saat ini orang muda dituntut untuk menampilkan gaya hidup zaman now yang mengutamakan penampilan dan mengikuti trend. Berapa kali dalam sehari seorang perempuan melihat ke cermin dan berkata pada diri sendiri: "aku gendut banget," "aku mau diet" "aku kurang langsing," dan sederet pertanyaan lainnya? Atau berapa kali dalam sehari kita berkata kepada teman kita: "kamu gendutan ya" "duh cewek tuh musti makan dikit" dan sejumlah pernyataan lain yang mengarah ke bodyshaming ( membuat orang lain merasa malu akan tubuhnya ). Atau seberapa sering laki-laki berkata: "ini tubuhku, jangan kau atur-atur!" Kita hidup di dunia yang konsumtif dan memiliki banyak aturan demi penampilan/gaya hidup yang sesuai standar khalayak umum. Benarkah demikian? Bagaimana seharusnya kita melihat tubuh kita? Mencintainya dan merawatnya?

II. ISI
Prihatin dengan berbagai macam produk pelangsing tubuh bagi perempuan dan bagaimana produk-produk ini membuat perempuan menderita karena menyiksa diri demi mendapatkan tubuh yang langsing, Lisha Isherwood dan Elisabeth Stuart dalam buku Introducing Body Theology mengembangkan sebtuah teologi yang disebut teologi tubuh. Keprihatinan utama mereka bukan sernata-mata mengenai tubuh yang langsing tetapi lebih dari pada itu. Mereka
berteologi mengkritik relasi awal antara kekristenan dan tubuh, betapa dalam sejarah kekristenan tubuh dipandang sebagai sesuatu yang najis. Pandangan ini Inemiliki beberapa implikasi: para bapa gereja melihat tubuh sebagai yang najis dan jjwa sebagai yang kudus. Lebih jauh, tubuh merefleksikan perempuan dan iiwa merefleksikan laki-laki. Sehingga karena yang kudus tak mungkin bersatu dengan yang tak kudus maka penindasan terhadap tubuh dilakukan demi mencapai kekudusan. Akibatnya, tubuh perempuan lebih banyak menjadi korban. Kita melihat hasilnya kini pada konstruksi budaya patriarkat mengenai penampilan yang ideal dari tubuh perempuan ( dan laki-laki ) yang bermuara pada kategori cantik dan langsing menurut kebutuhan pasar. Diet dan kosmetik menjadi isu yang sangat menjual sehingga banyak perempuan ( dan laki-laki ) terjebak dalam komoditas ini. Mereka yang yang tidak memenuhi kriteria pasar tidak dianggap dalam ruang publik. Tubuh yang 'tidak laku' ini terlihat dalam diri para buruh migran, pembantu, pekerja rumah tangga dan korban-korban perdagangan orang. Isherwood dan Stuart menantang agar tubuh manusia (laki-laki dan perempuan) diberikan penghargaan yang sama. Lebih dari pada itu, agar setiap orang menerima tubuhnya dan mencintainya apa adanya.

Selain Isherwood dan Stuart, Tina Beattie dan Susan A Ross juga mengembangkan teologi tubuh sakramental yang menggugat bahwa gambar dan citra Allah yang terwakilkan dalam diri manusia diwakilkan oleh perempuan dan laki-laki. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa pada penciptaan dan inkarnasi Yesus, sakramentalitas Allah tercurah dalam seluruh ciptaan, laki-laki dan perempuan mengambil bagian di dalam peristiwa sakramental yang sama. Hal ini berarti, yang sakramental terjelma dalam semua ciptaan, termasuk manusia. Implikasinya adalah bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama merepresentasikan Allah.

Merepresentasikan sakramentalitas Allah dalam diri laki-laki dan perempuan harus terlihat dalam kesejajaran menghargai, menerima dan mencintai tubuh. Tubuh laki-laki dan tubuh perempuan harus diterima sebagai tubuh representasi sakramentalitas ilahi. Dengan menerima dan mencintai tubuh kita, kita dapat memandang dan mencintai tubuh alam yang lain.

Bagaimana cara menerima dan mencintai tubuh? Pertama, kita berhak atas tubuh kita sendiri. Setiap tubuh laki-laki dan perempuan adalah milik si empunya tubuh, bukan orang lain. Karena itu, kontrol atas tubuh seseorang terletak pada orang itu sendiri. Kita mengetahui apa yang baik dan benar untuk tubuh kita. Dan bercermin pada bacaan Imamat 10:8-11 dan 1 Petrus 2: 9-11 kita diajak untuk mewujudnyatakan sakramentalitas ilahi melalui tubuh kita. Kita mengontrol apa yang masuk dan keluar dari tubuh kita. Di kalangan orang muda, rokok dan minuman keras adalah persoalan klasis di semua tempat. Meski hasil penelitian menunjukkan sejumlah akibat buruk dari mengkonsumsi rokok dan miras, penikmat kedua hal ini tidak berkurang. Kita memang berhak atas tubuh kita tetapi ada tanggung jawab mendasar untuk merepresentasikan sakramentalitas ilahi melalui tubuh kita. Bagaimana tanggung jawab iman kita terhadap tubuh sakramental pemberian Allah ini?

Kedua, tubuh manusia bukan komoditas dan karena itu tidak untuk dijual. Pernyataan ini mengandung dua hal: 1) menerima diri dan tubuh kita apa adanya; Allah mengasihi tubuh kita yang gemuk, kurus, tinggi, pendek, dan mengasihi kita yang menyandang disabilitas. Jika kita mengakui sakramentalitas ilahi terjelma atas diri kita, kita juga mengakui karya Allah yang besar melalui tubuh kita. 2) Karena tubuh manusia bukan komoditas maka kita menolak setiap tindakan eksploitasi, perdagangan manusia, penjualan organ tubuh, dan perbudakan. Setiap tubuh berharga sebagaimana Allah menciptakannya. Jika kita melihat lebih jauh, budaya konsumtif dan iklan pasar terhadap berbagai produk yang merugikan kesehatan dan membuat kita menderita mengikuti kemauan pasar sebenarnya mengarahkan kita eksploitasi tubuh kita sendiri. Seberapa sering kita mengikuti budaya konsumtif dengan tidak menjaga kesehatan diri? Seberapa sering kita berusaha tampil maksimal demi kebutuhan pasar tapi sesungguhnya kita menderita? Seberapa sering kita lupa bahwa kita adalah gambar dan rupa Allah lalu lupa mencintai dan memelihara tubuh kita?

III. APLIKASI
Nasihat Imamat 10:8-11 dan 1 Petrus 2: 9-11 sejalan dengan teologi tubuh yang digagas oleh Isherwood, Stuart, Bettie, dan Ross. Tubuh manusia bukanlah hal yang najis melainkan kudus sebagaimana Kristus sendiri rupa tubuh manusia. Dengan mengakui dan menerima tubuh kita sebagai tubuh yang kudus, kita memeliharanya tetap sehat dan mencintainya apa adanya. Hanya ketika kita mampu menerima, menghargai dan mencintai tubuh kita sendiri, kita mampu menerima, menghagai dan mencintai tubuh orang lain.

IV. DISKUSI DAN MEMBUAT TAG LINE  
  1. Apakah PERMATA GBKP sudah mencintai tubuhnya selama ini? Bandingkan dengan tubuh sakramental (Imamat 10:8-11)!
  2. Sebutkanlah langkah-langkah konkret untuk menerima, menghargai dan mencintai tubuh!
  3. Buat Tag Line "hidup sehat, menerima-menghargai dan mencintai tubuh"!
V. USULAN LAGU
  1. Jalan Serta Yesus   
  2. Hidupku Bukannya Aku Lagi   
  3. Seperti Yang Kau Ingini  
  4. Sentuh Hatiku   
  5. Kukasihi Kau Dengan Kasih Tuhan    


Vic. Ester Damaris Wunga


Belum ada Komentar untuk "Tubuh Sakramental ( Bahan PA Permata ) - Hari Kesehatan Nasional ( Menjauhkan Diri Dari Makanan Cepat Saji, Begadang, Rokok )"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel